Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Juni 2008

Muslim Tradisionalis Sekaligus Modernis

Gugun El-Guyanie
Jawa Pos, 17 Febr 2008

"Kita mengenang karena sayang, kita bernostalgia karena cinta, dan kita meruwat karena hormat."

Memori sejarah dunia Islam harus kembali membuka file-file lama untuk menemukan tokoh besar dalam sejarah perjalanan Islam di Indonesia dan dunia. Buya HAMKA, nama itulah yang menjadi penanda penting bagi kehidupan umat Islam di Indonesia khususnya.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), putra Minangkabau yang lahir pada 17 Februari 1908, dikenang karena kebesaran perjuangannya untuk menghidupkan Islam dan mencintai tanah air Indonesia. Tidak ada yang berlebih-lebihan ketika peringatan seabad Buya HAMKA kali ini, siapa pun harus memberikan apresiasi yang reflektif dalam rangka menghidupkan roh perjuangan beliau.

Sebagai ulama, mubalig, aktivis politik, dan pujangga besar, nama Buya HAMKA merangkum berbagai dimensi ilmu pengetahuan dan lintas sektor kehidupan. Buya HAMKA menempati peta penting dalam sejarah peradaban umat Islam Indonesia, bahkan dunia.

Dengan membaca peta HAMKA, umat muslim Indonesia sangat diharapkan mampu melanjutkan garis perjuangan dalam sejarah peradaban Islam jauh ke depan. Abad ke-21 yang ditunggangi ideologi global modernisme menjadi tantangan umat Islam untuk menjawab problematikanya.

Melalui kebangkitan spirit HAMKA, jawaban-jawaban itu terlahir sebagai bukti bahwa Islam itu memiliki power untuk melakukan perubahan. Islam di tangan HAMKA bukan doktrin mati yang membelenggu kemanusiaan, namun justru Islam menjadi teologi pembebasan (liberation theology) bagi mereka yang terpenjara, mengangkat derajat orang-orang kalah, dan mencerahkan umat yang terbelakang.

HAMKA adalah muslim tradisionalis sekaligus modernis. Dia seorang ulama yang istikamah dengan keislamannya, namun sekaligus menjadi seorang nasionalis yang berwibawa. Beliau adalah tokoh besar Muhammadiyah, namun juga sangat dekat dengan tradisi NU.

Pada zaman Soekarno, HAMKA adalah ulama pertama yang membacakan syair-syair Maulud Barjanzi di Istana Negara. Beliau menyanyikan bait-bait Barjanzi dan menerjemahkan dengan nuansa sastra sufistik yang tinggi. Barjanzi itu menjadi brand culture orang-orang NU, yang dianggap bid¢ah oleh lingkungan HAMKA yang Muhammadiyah.

Begitu juga kegemarannya pada dunia mistik-sufistik, yang juga menjadi karakter ulama tradisonalis NU. Dalam bukunya, Tasawuf Modern atau Tasawuf dari Abad ke Abad, tampak kelapangan hati antar aliran mistik.

Dalam buku itu, tak ada nada penghukuman, bahkan kepada pendekar union mystique Al Hallaj. Justru terdapat nukilan, misalnya, tentang Abu Yazid Al Busthami, seorang sufi, yang datang ke satu misa di gereja dan bapak pastor di sana kemudian mengumumkan hadirnya seseorang yang menurut perasaannya bukan orang sembarangan, dilihat dari aura jiwanya yang kuat.

Karakter keilmuan Islam klasiknya benar-benar sangat dekat dengan kultur Islam tradisionalis sebagaimana yang melekat pada ulama-ulama NU, terbukti dengan penguasaannya yang otoritatif terhadap kitab-kitab salaf. Kefakihan "dirosah Islamiyah" (Islamic studies) yang dimiliki HAMKA sampai saat ini jarang dimiliki kader-kader Muhammadiyah yang justru terjebak dalam puritanisme Islam yang radikal-konservatif.

Dalam konteks ini, saya tidak ingin berpikir dikotomis-frontalis antara NU-Muhammadiyah. Namun, ingin menunjukkan kepada umat Islam yang cenderung ekstrem-fanatis NU atau Muhammadiyah bahwa keduanya bisa terdapat dalam satu tubuh sekaligus, bersanding dengan damai demi membangun umat Islam yang harmonis dan humanis.

Baik orang NU atau orang Muhammadiyah harus sama-sama belajar kepada yang mulia Buya HAMKA. NU harus belajar serius bagaimana seorang yang memiliki tradisi kuat, namun juga mampu mentransformasikan ilmu modern dan Barat yang dianggap sekuler.

Demikian juga, Muhammadiyah harus belajar sungguh-sungguh kepada HAMKA untuk membuktikan bahwa Muhammadiyah adalah jam¢iyyah yang istikamah mengusung mainstream pembaruan (tajdid). Secara ontologis, HAMKA adalah senyawa yang tidak bisa dibingkai dan dirumuskan dalam satu segmentasi yang ketat.

Sebagaimana hipotesis Yudian Wahyudi PhD, guru besar filsafat hukum Islam, yang memberikan pernyataan bahwa pengalaman konflik tradisionalis versus modernis mengajarkan bahwa esensialisme gagal karena manusia adalah makhluk multiorientasi sehingga juga multidimensi, yang menolak setiap pemilahan ketat yang membagi manusia menjadi satu kategori atau label seperti tradisionalis, modernis, atau fundamentalis.

HAMKA dengan kemurnian akidahnya tidak menjadikan beliau terjebak dalam fanatisme buta (muthlaqun ta¢ashuby) sehingga mampu memberikan payung keteduhan bagi umat Nasrani, etnis Tionghoa, dan agama lain.

Surat kabar Berita Buana, yang menobatkan beliau sebagai Man of The Year untuk 1980, menilai HAMKA sangat berjasa dalam memperbesar jumlah pemeluk Islam dari kalangan warga Tionghoa, baik dari generasi muda, cendekiawan, maupun pengusaha. Bahkan, pada usianya yang lanjut, Buya HAMKA masih membuka pintu lebar bagi warga negara keturunan untuk belajar Islam.

Sebagai aktivis partai politik Masyumi, Buya HAMKA tentu memiliki tafsir politik yang positif daripada image politik yang oleh kebanyakan orang dibaca dengan negatif.

Sudah menjadi dalil umum bahwa politik adalah penyusunan dan penggunaan kekuasaan (machtsvorming en machtsaanwending). Namun, Buya HAMKA mengoperasikan politik yang maslahah dan rahmatan lil ¡alaamin. Ketika pemerintah mengampanyekan gerakan monoloyalitas, yang mengarahkan setiap pegawai negeri harus loyal kepada pemerintah dengan diwajibkan memilih Golkar dalam setiap pemilu, Buya HAMKA memberikan tanggapan yang diplomatis sekali.

Kata Buya HAMKA saat itu: Saya adalah seorang rakyat Indonesia yang pertama kali berlindung kepada Allah, di bawah kibaran bendera Merah Putih dan presidennya ialah Soeharto. Inilah yang bernama loyalitas."

Lanjut HAMKA, dengan pernyataan loyalitas itu bukanlah berarti bahwa saya mesti membantu kampanye Golkar. Jika saya tidak ikut kampanye buat menusuk tanda gambar salah satu partai Islam, bukanlah berarti saya keluar dari perjuangan Islam.
-----------------

*. Gugun El-Guyanie, Sekjen Lembaga Kajian Keagamaan dan Kebangsaan (LK3) PW GP Ansor Jogjakarta.

Read More......

Kematian Gandhi dan Masa Depan Perdamaian

Gugun El-Guyanie

MOHANDAS Karamchand Gandhi (Mahatma, yang berati "Jiwa Yang Agung", sebagai julukan kehormatan), seorang bocah terlahir di tengah peradaban India yang masih tercengkeram kolonialisme dan imperialisme Barat.

Latar belakang sejarah yang penuh pergolakan, pertumpahan darah dan penjajahan hak-hak sesama manusia, menjadikan Gandhi dewasa menolak bertekuk lutut menyerah pada penjajah yang zalim. Namun, semenjak meninggalnya pada 30 Januari 1948, tubuhnya yang dihantam bom rakitan pengikutnya dari Hindu fundamentalis, dunia seakan sulit melahirkan tokoh yang sebanding dengan Gandhi.

Ahimsa, sebuah prinsip perlawanan Gandhi dalam memperjuangkan hak-hak kemanusiaan dengan tetap antikekerasan, pada konteks kekinian patut kita refleksikan kembali. Abad modern yang bergelimang dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menjadikan misi hidup mulia Gandhi semakin terasing.

Setengah abad setelah si tubuh ringkih itu meninggalkan dunia mayapada ini, perdamaian menjadi komoditas yang terlalu mahal dan tabu untuk dibicarakan.

Perjuangan Gandhi untuk memperjuangkan kehidupan yang damai dengan kerelaan mengorbankan kenikmatan duniawinya, rupa-rupanya tak banyak yang menghargainya, apalagi meneruskan panji perjuangannya.

Penilaian Negatif
Orang bisa memaklumi ketika yang bersikap skeptis itu adalah kaum awam yang tak memikirkan filosofi kehidupan apa pun. Tetapi sangat ironis, kalau tokoh sejenius Profesor Worm Muller (penasihat Komite Nobel Norwegia), memberikan penilaian negatif terhadap perjuangan Gandhi.

Momentum tersebut terjadi ketika Gandhi dinominasikan sebagai penerima Nobel Perdamaian pertama kali pada tahun 1937. Dalam pandangan Muller, Gandhi memang seorang pemimpin yang penuh karismatik, tetapi kapasitasnya selaku maestro politik, kebijakannya sering tidak konsisten. Begitu pula jalan pemikirannya yang sulit dipahami oleh para pengikutnya.

Gandhi dianggap berwajah ganda. Sebagai pejuang kebebasan tetapi sekaligus juga seorang pemimpin yang diktator. Kampanye antikekerasan melawan Inggris dapat menyebabkan kekerasan dan teror. Begitu pula dengan kasus di Chauri Chaura, yaitu selama kampanye non-kooperatif I periode 1920-1921, sekumpulan orang menyerang kantor polisi dan membakarnya serta terjadi pembunuhan terhadap para anggota polisi.

Dengan sebelah mata, laporan dari Penasihat Komite Nobel itu juga menganggap bahwa ide Gandhi yang banyak mengundang simpati hanya terbatas untuk bangsa India semata. Salah satu contohnya adalah perjuangan perdamaian Gandhi di Afrika juga muara keuntungannya untuk India.

Skenario semacam itulah yang menggagalkan Gandhi untuk memperoleh nobel pada tahun 1937, bahkan sampai akhir hayatnya, tak satu pun penghargaan tersebut jatuh untuknya.

Memang, perjuangan yang penuh keikhlasan jauh dari tendensi pragmatisme sempit-seperti kemasyhuran, kedudukan apalagi kekayaan duniawi-tak akan pernah dipandang indah oleh siapa pun. Dalam filosofi Jawa, "sepi ing pamrih rame ing gawe". Sepi berarti kosong, kekosongan dari pamrih yang berarti kepentingan, keuntungan atau pujian. Rame yang bermakna penuh karya, seluruhnya berisi gawe yang berarti sepak terjang perjuangan yang penuh rintangan, pengorbanan baik jiwa dan raga.

Ada beberapa kemungkinan mengapa cita-cita mulia beliau sengaja disembunyikan dari sesuatu yang objektif. Pertama, sepintas mereka yang memandang satu mata terhadap spirit perdamaian yang diusung Gandhi, tak memahami esensi kehidupan itu sendiri. Sehingga hidup yang penuh kedamaian, keharmonisan dan keindahan tak berarti apa-apa.

Atau barangkali yang kedua, mereka telanjur skeptis bahwa perjuangan mewujudkan perdamaian adalah sesuatu yang utopis belaka. Sebagaimana adagium yang mengakar pada masyarakat Romawi Kuno, "sivis pacem para bellum, jika Anda ingin damai bersiaplah untuk perang". Artinya tak ada kehidupan damai yang sejati. Perdamaian itu sendiri ditegakkan dengan mengorbankan nyawa manusia, pertumpahan darah dan menuruti nafsu kebengisan.

Waktu damai hanyalah masa tenggang yang diapit oleh kekerasan sebelumnya yang akan disambung oleh pergolakan berikutnya. Setiap waktu, setiap tahun adalah tahun yang mengerikan (Anno Horrobilis).

Ketiga, apresiasi yang sempit dari orang-orang Barat sebagaimana terbukti dalam Komite Nobel Norwegia, menunjukkan terjadinya perang kepentingan. Faktor politiklah yang muncul secara dominan. Primordialisme Barat atau Eropa sentris, seakan keberatan ketika harus menjatuhkan pilihan kepada tokoh Timur yang notabene masih hidup dalam belenggu kebodohan, keterbelakangan dan kemiskinan. Terlebih Inggris pada waktu itu masih mencengkeram kuat India sebagai daerah koloninya.

Kesadaran
Sampai detik ini, warga dunia masih belum juga terbuka kesadaran damainya (peace consciousness). Sebuah kesadaran yang fitrah, sebagaimana Tuhan menciptakan manusia dalam keadaan telanjang, kosong dari pergolakan apapun. Manusia berasal dari ketiadaan, kembali menuju ketiadaan.

Kearifan lokal itulah (local wisdom) yang diajarkan oleh RNg Ronggowarsito-seorang pujangga Yosodipuro II (1802-0873)-dalam sastra jawa, Sangkan Paraning Dumadi, asal muasal kejadian.

Beberapa teladan hidup Gandhi patut untuk dilahirkan kembali untuk menghadapi kehidupan yang semakin tua. Konsep perlawanan tanpa kekerasan, yang disebut ahimsa, keteguhan dalam kebenaran (satyagraha), dan swadeshi sebuah sikap konsistensi untuk berdiri diatas kemampuan sendiri.

Menjauhi kenikmatan duniawi (zuhud), telah membutakan mata Gandhi terhadap kekuasaan, kekayaan dan kemasyhuran. Gandhi tak segan-segan menolak jabatan politik yang diberikan kongres kepada dirinya. Menghabiskan hidup dengan tinggal di ashram yang jauh dari kemegahan, baginya jauh lebih mulia daripada hidup di istana. Menerima jabatan diibaratkannya sebagai memakai "mahkota berduri".

Gandhi memang telah meninggalkan dunia yang fana ini. Tetapi bukan berarti perjuangannya, teladan hidupnya, dan ajaran-ajarannya ikut terkubur oleh kerasnya tanah zaman globalisasi. Globalisasi yang mengajarkan gaya hidup materialis, hedonis dan pragmatis, membuat manusia teralienasi dari ke-fitrah-annya sendiri.

Mengalami kekeringan spiritual dan sepenuhnya dibimbing nafsu kebinatangan yang rakus tamak dan serakah. Menghormati jasa Gandhi terhadap semesta bukan dengan sikap mengkultuskannya. Tetapi mampukah kita semua melahirkan spirit Gandhi di zaman yang cerdas tapi beringas ini? *
------------------

*)Penulis adalah Koordinator Kajian Editorial LKKY (Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta)
1 Feb 2006, diambil dari Suara Pembaruan

Read More......